Tasyakuran Parepatan Triwulanan Abdidalem Karaton Surakarta Hadiningrat Reh. Kebumen
Tasyakuran Parepatan Triwulanan Abdidalem Karaton Surakarta Hadiningrat Reh. Kebumen
Tasyakuran Perepatan Triwulanan merupakan istilah lokal untuk salah satu acara adat rutin bagi para abdi dalem di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Keraton Solo). Acara ini kemungkinan merupakan bagian dari serangkaian upacara ritual atau tradisi yang diadakan secara berkala oleh pihak keraton. Sedangkan, Umbul Donga dalam konteks tradisi Nyadran/Ruwahan merujuk pada prosesi doa bersama yang dilakukan untuk mendoakan para leluhur yang telah meninggal dunia. Tradisi ini umumnya dilaksanakan oleh masyarakat Jawa pada bulan Ruwah (Sya'ban dalam kalender Hijriyah) sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadan.
Bertempat di Pendopo Sosro Gumelar Desa Banjurpasar, Ndalem Kertiadinegoro R Setyo Budi, SH, MH mengadakan Tasyakuran Parepatan Triwulanan Adidalem Karaton Surakarta Hadiningrat Reh. Kebumen dan Umbul Donga Sadran Ruwahan 1447 H. Hadir pada agenda ini, Ketua FKPPAI Jawa Tengah (Dr.HC. Imam Teguh), Forkompincam Buluspesantren (Camat diwakili Sekretaris Kecamatan, Kapolsek hadir secara pribadi, dan Danramil diwakilkan Babinsa), Kepala Desa Banjurpasar (Sunarto) beserta perangkatnya, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan undangan lainnya.
Agenda tersebut dikemas dalam bentuk pementasan wayang kulit semalam suntuk dengan Dalang Ki Sukasdi dari Karangsambung mengambil Lakon Semar Mbangun Jung Giri Saloko. Inti dari Lakon Semar Mbangun Jung Giri Saloko (lebih dikenal sebagai Semar Mbangun Kayangan) adalah kisah simbolis tentang pembenahan moral dan jiwa manusia. Semar tidak membangun gedung fisik atau istana mewah, melainkan "membangun" hati dan akhlak para pemimpin serta rakyat agar kembali ke jalan kebenaran. Menekankan sifat Asah, Asih, dan Asuh. Pemimpin harus menjadi pengayom yang memiliki pandangan luas dan bijaksana demi terciptanya negeri yang makmur (tata tentrem karta raharja), berusaha mencapai kesempurnaan hidup (nggayuh kamulyan) sebagai persiapan untuk kehidupan setelah kematian. Singkatnya, lakon ini berisi ajaran tentang revolusi mental dan penataan ulang tatanan sosial yang dimulai dari perbaikan kualitas batin setiap individu.
