Sinergi Spiritual Nuzulul Qur'an dan Puasa Ramadhan
Sinergi Spiritual Nuzulul Qur'an dan Puasa Ramadhan
Hakikat Nuzulul Qur'an dan Puasa Ramadhan merupakan dua pilar spiritual yang saling berkaitan erat dalam membentuk kesalehan seorang muslim. Keduanya bertemu di Bulan Ramadhan sebagai momentum transformasi diri dari kegelapan menuju cahaya petunjuk.
Jum’at malam (06/03/2026) bertempat di Pendopo Kabumian Komplek Rumah Dinas Bupati Kebumen, dilaksanakan agenda Sholat Tarawih Bersama dilanjutkan Peringatan Nuzulul Qur'an Tahun 1447 H. Acara ini dihadiri Bupati Kebumen Hj. Lilis Nuryani beserta suami Ir. H. M Yahya Fuad, SE, Wakil Bupati Kebumen H. Zaeni Miftah, Forkompinda, Sekretaris Daerah beserta Asisten Sekda, Staf Ahli Bupati, Pimpinan OPD, seluruh Camat (Camat Buluspesantren diwakili Sekretaris Kecamatan Eko Budiono, SE, MSi), unsur PCNU dan Pengurus Daerah Muhamadiyah Kabupaten Kebumen. Untuk agenda sholat tarawih bertindak sebagai imam,Beliau Wakil Bupati Kebumen H.Zaeni Miftah.
Dalam sambutannya setelah selesai shalat tarawih, Bupati menyampaikan bahwa sinergi antara ulama dan umara merupakan pilar utama dalam menjaga stabilitas, moralitas, dan kemakmuran. Keduanya memiliki peran berbeda namun saling melengkapi demi kemaslahatan umat. “Sinergi yang saling menguatkan untuk menuju Kebumen semakin berdaya, “ungkap Bupati Lilis.
Adapun tauziah sebagai inti acara ini, disampaikan oleh KH. Fathurahman dari Kementerian Agama Kabupaten Kebumen. Beliau menjelaskan terkait dengan korelasi antara Nuzulul Qur'an dan Puasa Ramadhan untuk menciptakan sinergi spiritual. “Ramadhan sebagai Bulan Al-Qur'an, Ramadhan dipilih sebagai waktu puasa karena di bulan inilah Al-Qur'an pertama kali diturunkan (QS. Al-Baqarah: 185),” kata Kyai Fathurahman. “Pembersihan Wadah, Puasa berfungsi membersihkan jiwa manusia sebagai wadahnya, sedangkan Al-Qur'an adalah isinya, cahayanya atau petunjuknya. Jiwa yang bersih melalui puasa akan lebih mudah menerima dan memahami pesan-pesan suci Al-Qur'an,” imbuh Kyai Fathurahman.
Selain itu, Beliau juga menekankan keutamaan Malam Lailatul Qadar yang ada hanya di saat Bulan Ramadhan dan menurut riwayat ada diantara malam ganjil di sepuluh malam terakhir, dimana malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan. “Artinya, ibadah yang dilakukan pada malam Lailatul Qadar nilainya lebih besar dibandingkan ibadah yang dilakukan selama seribu bulan atau sekitar 83 tahun,” jelasnya.
