Pengajian Akbar Attasyakur Khotmil Kutub Wal Mukhafadhoh ke 51 Ponpes Riyadlotuth Tholabah
Pengajian Akbar Attasyakur Khotmil Kutub Wal Mukhafadhoh ke 51 Ponpes Riyadlotuth Tholabah
Bertempat di komplek Pondok Pesantren Riyadlotuth Tholabah Desa Tanjungsari Kecamatan Buluspesantren, Kamis 5 Februari 2026 dilaksanakan Haflah Attasyakkur Khotmil Kutub Wal Mukhafadhoh Ke 51 santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Riyadlotuth Tholabah.
Pada kegiatan ini, Pondok Pesantren dibawah asuhan KH Bakri Asy’ari Assidiq, selain menghadirkan santri dan wali santri, jamaah masjid, Perangkat Desa Tanjungsari, Forkompincam Buluspesantren, dan juga Bupati Kebumen yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia (Muhsinul Mubarok, S.Pd, MSi), serta undangan lainnya. Acara inti yang diisi pengajian, pada kesempatan kali ini menghadirkan KH Fatturohman Tohir, Pengasuh Pondok Pesantren At Ittihad Kota Salatiga.
Sebelum membacakan sambutan Bupati, Staf Ahli Bupati Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia menyampaikan permohonan maaf karena Beliau Ibu Bupati tidak bisa hadir dikarenakan ada agenda lain yang mengharuskan untuk dihadiri Bupati. Adapun inti sambutan Bupati yang dibacakan Staf Ahli Bupati, salah satunya adalah apresiasi terhadap Pengasuh Ponpes yang sangat konsisten, istiqomah, dan tidak pernah lelah mendidik dan mencerdaskan santri. Bupati bangga dan terhormat, Kebumen memiliki Ponpes Riyadlotuth Tholabah yang terus melahirkan generasi berahklak mulia, berilmu, dan siap mengabdi untuk umat, bangsa, dan daerah. Melalui sambutan tersebut juga disebutkan bahwa Pemkab Kebumen terus berupaya menghadirkan pembangunan yang nyata dan berimplikasi positif bagi masyarakat. Sebagai gambarannya, Pemkab Kebumen telah melakukan perbaikan 115 titik ruas jalan dan 20 jembatan yang tersebar di 26 kecamatan. Selain pembangunan fisik, Pemkab Kebumen juga berupaya membangun akhlak "Kebumen Beriman" untuk terus bersinergi dengan ulama dan pondok pesantren.
KH Fatturohman Tohir dalam ceramahnya secara gamblang menjelaskan bahwa di dunia pesantren ada satu istilah yang sering kita dengar yaitu “keberkahan”. Ilmu yang berkah adalah ilmu yang memberikan nilai kemanfaatan dan kebaikan di dalamnya. Salah satu tandanya adalah ilmu tersebut diamalkan dan bermanfaat untuk dirinya dan orang lain serta mendatangkan kebaikan. Keberkahan ilmu harus dimulai dengan niat yang lurus dan benar. Selayaknya seorang penuntut ilmu meniatkannya untuk mencari keridhaan Allah SWT, mencari kehidupan akhirat, menghilangkan kebodohan dari dirinya sendiri dan orang-orang bodoh, menghidupkan agama dan melanggengkan Islam. Sebab kelanggengan Islam itu harus dengan ilmu, dan tidak sah kezuhudan dan ketakwaan yang didasari atas kebodohan. Dalam menuntut ilmu hendaknya juga diniatkan sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan akal dan sehatnya badan. Dan tidak dibenarkan meniatkannya untuk mencari kedudukan di hadapan manusia, mencari harta duniawi, atau kemuliaan di sisi penguasa dan lainnya yang tidak sesuai tuntunan. Dalam tradisi keilmuan Islam, penghormatan (ta’dzim) terhadap guru benar-benar telah dipraktikkan. Santri harus menjaga kehormatan guru, karena itu adalah tanda keberhasilan, kemenangan, pencapaian ilmu, dan kesuksesan dimasa depan. Dengan segala keteladanannya, guru merupakan sosok yang sudah semestinya untuk dihormati, dimuliakan, dihargai, dan diperlakukan dengan santun.
