Sillaturahmi Tut Wuri Handayani Kecamatan Buluspesantren, Memperkuat Persaudaraan Meruntuhkan Sekat
Sillaturahmi Tut Wuri Handayani Kecamatan Buluspesantren, Memperkuat Persaudaraan Meruntuhkan Sekat
Sejarah mencatat bahwa istilah halal bihalal dipopulerkan pada pertengahan abad ke-20. Pasca kemerdekaan Indonesia, tepatnya sekitar tahun 1948, negara mengalami pergolakan politik dan disintegrasi antar elit bangsa. Presiden Soekarno kemudian berkonsultasi dengan tokoh ulama, KH Abdul Wahab Chasbullah. Sang Kyai menyarankan sebuah forum silaturahmi di hari raya Idul Fitri yang diberi nama Halal Bihalal. Pemilihan diksi ini sangat cerdas karena secara psikologis mengajak pihak yang bertikai untuk saling "menghalalkan" atau memaafkan kesalahan masing-masing demi persatuan bangsa.
Bertempat di Gedung KPRI Kecamatan Buluspesantren, Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Kecamatan Buluspesantren melaksanakan Silaturahmi Keluarga Besar Tut Wuri Handayani Kecamatan Buluspesantren (01/04/2026). Hadir dalam acara tersebut, selain Kepala Sekolah, Guru dan tenaga kependidikan lainnya dari tingkat TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK se-Kecamatan Buluspesantren, juga dihadiri Bupati Kebumen yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga, Camat Buluspesantren beserta Sekretaris Kecamatan dan Struktural Kecamatan, Danramil Buluspesantren, dan Kapolsek Buluspesantren.
Dalam sambutannya, Bupati Kabupaten Kebumen Hj. Lilis Nuryani yang diwakili Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga Dr. H. Agus Sunaryo, S.Pd, MPd menyampaikan pentingnya menjaga kebersamaan dan kekompakan, khususnya di lingkungan pendidikan. Momentum Halal Bihalal, menurutnya, bukan hanya sebagai ajang saling memaafkan, tetapi juga sebagai sarana memperkuat sinergi dalam meningkatkan kualitas pendidikan di daerah.
Agus Sunaryo yang juga Ketua PGRI Kabupaten Kebumen menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan tenaga pendidik dalam menciptakan sistem pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing. “Halal Bihalal ini bukan hanya sekadar tradisi tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk saling memaafkan serta memperkokoh sinergi antara pemerintah, guru, dan masyarakat dalam membangun dunia pendidikan di Kabupaten Kebumen yang lebih baik,” ujarnya.
Sebagai penutup acara sillaturahmi kali ini adalah tauziah yang disampaikan oleh KH. Fakhrudin, S.PdI, MPdI. Melalui tauziahnya, Kyai Fakhrudin menyampaikan inti halal bihalal dan silaturahmi yang merupakan tradisi khas Indonesia yang memiliki hikmah mendalam, terutama dalam konteks profesional untuk mencairkan hubungan antara atasan dan bawahan. Kegiatan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sarana efektif untuk memutus jarak hierarki dan membangun harmoni sosial. Halal bihalal menciptakan momen dimana semua orang setara. “Atasan dan bawahan saling bermaafan tanpa melihat jabatan, berdiri di posisi yang sama sebagai manusia. Ini meruntuhkan tembok kaku yang biasanya ada di kantor,” tegasnya.
Dengan demikian, halalbihalal adalah instrumen penting untuk menciptakan lingkungan kerja yang kondusif, nyaman, dan berlandaskan persaudaraan, bukan sekadar ketakutan atau formalitas jabatan.
