Pelepasan Murid Kelas VI SDN 2 Brecong: Fase Krusial Pembentukan Fondasi Karakter, Mental, dan Cara Berpikir
Pelepasan Murid Kelas VI SDN 2 Brecong: Fase Krusial Pembentukan Fondasi Karakter, Mental, dan Cara Berpikir
Pelepasan atau kelulusan bagi murid SD memiliki urgensi yang sangat besar karena menjadi jembatan transisi krusial anak yang menentukan arah pendidikan lanjutan mereka. Acara ini bukan sekadar seremoni formalitas, melainkan sebuah momentum strategis yang menyangkut aspek psikologis, akademis, dan sosial siswa.
Kamis (18/06/2026), Camat Buluspesantren Azida Nurul Hayya, S.STP MSi menghadiri undangan acara Pelepasan Murid Kelas VI SDN 2 Brecong bertempat di komplek SD tersebur. Bersama Camat hadir juga unsur Perangkat Desa, Kepala sekolah dan Dewan Guru, murid kelas VI, wali murid, dan komite sekolah.
Berdasarkan penyampaian laporan yang disampaikan Kepala sekolah SDN 2 Brecong, Nova Kartika Dewi,S.Pd, di Tahun Ajaran 2025/2026, dari 6 rombongan belajar dengan total 44 murid yang terdiri dari 24 murid putra dan 20 murid putri dinyatakan lulus 100 persen.
Sementara itu, Camat Buluspesantren dalam sambutannya menyampaikan bahwa acara ini bukan akhir dari perjalanan, melainkan sebuah gerbang awal. Camat berpesan, lanjutkan pendidikan, jangan pernah berpikir untuk berhenti sekolah dan raih pendidikan setinggi-tingginya, baik di SMP/MTs, maupun sekolah lainnya termasuk sekolah yang berbasis pondok pesantren. Tidak lupa, Camat juga berpesan agar murid mengkolaborasikan antara IQ (Kecerdasan Intelektual), EQ (Kecerdasan Emosional), dan SQ (Kecerdasan Spiritual).
“Kolaborasi antara IQ (Kecerdasan Intelektual), EQ (Kecerdasan Emosional), dan SQ (Kecerdasan Spiritual) membentuk fondasi utuh bagi penguatan karakter pribadi. Ketiganya saling melengkapi dan mendukung satu sama lain untuk mencapai kesuksesan, “ pesan Camat Azida.
Sebuah pesan yang mulia karena sejatinya kolaborasi IQ, EQ, dan SQ pada siswa Sekolah Dasar (SD) sangat mendesak karena usia ini merupakan fase krusial pembentukan fondasi karakter, mental, dan cara berpikir anak sebelum memasuki masa remaja. Tanpa keseimbangan ketiganya, siswa yang cerdas secara akademik (IQ tinggi) berisiko rentan stres, sulit bersosialisasi (EQ rendah), serta kehilangan arah moral atau integritas (SQ rendah).
