Bimbingan Pola Asuh Anak dan Remaja Menuju Keluarga Bahagia
Bimbingan Pola Asuh Anak dan Remaja Menuju Keluarga Bahagia
Pola asuh di era digital berfokus pada literasi digital dan pengawasan (mediasi) teknologi. Orang tua kini tidak hanya dituntut menjaga perilaku fisik, tetapi juga perilaku daring anak dan remaja. Mengasuh anak dan remaja di era yang terus berubah menuntut orang tua untuk lebih adaptif dan sadar akan teknologi. Tantangan utama berkisar pada bagaimana menjaga keseimbangan antara manfaat digital dan risiko yang menyertainya.
Jum’at, 6 Februari 2026, Tim Penggerak PKK Kabupaten Kebumen menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Pola Asuh Anak dan Remaja Menuju Keluarga Bahagia yang diikuti unsur Pokja I TP PKK Kecamatan beserta 2 (dua) perwakilan TP PKK Desa dari masing-masing kecamatan yang ada di Kabupaten Kebumen. Hadir dari TP PKK Kecamatan Buluspesantren, Ketua Pokja I (Hj. Sri Undung, S.Sos), Ketua Pokja I TP PKK Desa Klapasawit (Azida Aprilistiari), Ketua Pokja I TP PKK Desa Bocor (Ani Sukarni).
Acara yang dibuka oleh Hj. Dra. Budi Lestari yang mewakili Ketua TP PKK Kabupaten Kebumen (Nurjanah Zaeni Miftah, S.Pdi), menghadirkan 3 (tiga) narasumber. Narasumber pertama, Dr. Siti Mutoharoh, S.ST, MPH yang menyampaikan materi dengan tema tumbuh kembang anak dan remaja. Narasumber kedua, Yulaida, Psikolog, menyampaikan materi pelibatan ayah dalam pengasuhan dan pembentukan karakter anak. Narasumber terakhir Siti Ma’rifah, S.Ag, menyampaikan materi terkait peran orangtua dalam mendidik anak dengan kasih dengan perspektif agama.
Dari pemaparan materi oleh 3 (tiga) narasumber ini, secara garis besar dapat disimpulkan bahwa pola asuh dalam Islam (Parenting Islami) bersifat teosentris, di mana anak dianggap sebagai titipan (amanah) dari Allah SWT yang harus dipertanggungjawabkan di akhirat. Perspektif global lebih bersifat antroposentris, berfokus pada pengembangan potensi diri, kesehatan mental, dan kesuksesan individu di dunia modern. Titik temu dua pola tersebut adalah pengasuhan ideal melibatkan kombinasi antara kontrol yang rasional (qawwam) dan kasih sayang yang tulus (rahmah). Mengasuh dan mnendidik anak bukan sekedar peran seorang ibu. Jangan dilupakan peran ayah dalam pengasuhan anak dan remaja. Sosok ayah bukan sekadar penyedia nafkah, melainkan sebagai pilar strategis dalam pembentukan karakter, stabilitas emosional, dan kesiapan sosial anak. Kurangnya peran ayah atau fenomena fatherless dapat berdampak pada penurunan konsentrasi, hilangnya rasa percaya diri, hingga kesulitan dalam pengambilan keputusan pada anak. Oleh karena itu, konsep unity dua dalam satu antara ibu dan ayah untuk anak adalah jawabannya.
