Haul Almaghfurlah Syeikh As Sayid Yusuf Al Hasani
Haul Almaghfurlah Syeikh As Sayid Yusuf Al Hasani
Rabu (11/02/2026) kegiatan Haul Almaghfurlah Syeikh As Sayid Yusuf Al Khasani bertempat di lingkungan Makam Almagfurlah Syeikh As-Sayid Yusuf Al-Khasani RT 01/RW 01 Buluspesantren. Hadir pada kegiatan ini, Kepala Desa Buluspesantren beserta perangkatnya, keluarga besar trah Syeikh Yusuf, termasuk didalamnya KH Afifudin Chanif Al-Hasani (Gus Afif) Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu Kebumen, para kyai dan ulama baik dari wilayah Kecamatan Buluspesantren (diantaranya KH M. Saefudin, KH M. Chalwani, KH Mubakir) maupun dari luar Kecamatan Buluspesantren. Dari unsur Forkompincam, Camat Buluspesantren diwakili oleh Sekretaris Kecamatan Buluspesantren (Eko Budiono, SE,MSi).
Selain menyampaikan salam dan permohonan maaf dari Camat Buluspesantren yang tidak bisa hadir secara pribadi, Sekcam Buluspesantren dalam sambutannya menyampaikan kaitan dengan tiga pilar yang disebut konsep 3A (Asah, Asih, Asuh). Makna asah, asih, asuh adalah filosofi budaya tentang tiga pilar hubungan antarmanusia untuk mencapai keharmonisan. Asah, saling mencerdaskan/mendidik, Asih, saling mengasihi/menyayangi, dan Asuh saling membimbing/menjaga. Konsep ini menekankan pentingnya interaksi positif, kepedulian, dan pendidikan. Harapannya dengan 3A ini, menjadikan kualitas iman, Islam, dan juga amal semakin meningkat. Oleh karena itu, diperlukan sinergitas ulama dan umaro, khususnya ulama di Kecamatan Buluspesantren dan seluruh unsur pemerintahan di Kecamatan Buluspesantren sampai dengan tingkat desa agar budaya 3A mandarah daging di Kecamatan Buluspesantren.
Sebagai acara inti yaitu mau’dhatul hasanah yang disampaikan oleh KH Ali Khaisor dari Watucongol Magelang. Sebelum acara inti, KH Afifudin Chanif Al-Hasani (Gus Afif), sebagai perwakilan dari trah Syeikh Yusuf Al Hasani, menyampaikan sejarah terkait riwayat Al Magfhfurlah Syeikh Yusuf Al Hasani secara runtut dari keturunannya sampai dengan peninggalannya. Sementara itu, dalam tausiahnya, KH Ali Khaisor menyampaikan bahwa Penyatuan dzikir lisan dan hati adalah puncak kesempurnaan ibadah, di mana lisan melafalkan kalimat thayyibah seperti tahmid, tahlil, tasbih, sementara hati sadar, meresapi, dan mengagungkan makna Allah SWT. Ini menciptakan ketenangan jiwa, memadukan raga dan ruh dalam mengingat Allah, serta memberikan pahala yang paling utama dibandingkan hanya salah satunya saja. Selanjutnya, menggabungkan ucapan lisan dengan kekhusyukan dan pemahaman hati adalah bentuk dzikir yang paling sempurna. Hati yang hadir menghasilkan cinta, rasa malu, dan takut kepada Allah, sementara lisan yang bergerak melengkapinya. Selain bab dzikir, KH Ali Khaisor juga menguraikan bab keutamaan ilmu dan orang berilmu. Dalam Islam, ilmu dan orang yang berilmu memiliki kedudukan sangat mulia. Allah SWT menjanjikan pengangkatan derajat bagi orang berilmu dan mempermudah jalan ke surga bagi penuntut ilmu. Ilmu adalah warisan nabi yang kekal, lebih utama dari harta, dan menjadi kunci kebaikan di dunia maupun akhir. Orang yang berilmu diwajibkan untuk rendah hati, mengamalkan ilmunya, dan membagikannya kepada sesama. Karena sejatinya ilmu sejati tidak sekadar di kepala, melainkan menyatu dengan hati, membawa manfaat, serta membimbing manusia mengenali kebenaran dari Allah SWT.
