Pendampingan Penanganan Stunting: Kolaborasi Bijak dan Tanggap Cegah Stunting
Pendampingan Penanganan Stunting: Kolaborasi Bijak dan Tanggap Cegah Stunting
Sebanyak 42 orang perwakilan desa (Ketua TP PKK Desa dan 1 orang kader) dari 21 desa di Kecamatan Buluspesantren mengikuti acara pendampingan penanganan permasalahan stunting yang berlangsung di Pendopo Kantor Kecamatan Buluspesantren, Selasa (12/5/2026). Sebagai Narasumber, hadir ahli gizi dari Puskesmas I (Puji Hartono) dan Puskesmas II Buluspesantren (Sugeng Edi Sarjono).
Membuka kegiatan tersebut, Camat Buluspesantren Azida Nurul Hayya, S.STP, MSi didampingi Plt. Kasi Pelayanan Umum dan Kesejahteraan Sosial Niken Budi Wahyuni, SM menyampaikan bahwa pendampingan penanganan permasalahan stunting dilaksanakan dengan harapan semakin memperkuat pengetahuan dan pemahaman peserta tentang pencegahan dini stunting. Pencegahan stunting sangat penting dan krusial karena berdampak langsung pada masa depan bangsa. Perlu diketahui, Pemerintah Kabupaten Kebumen juga terus mendorong agar masalah stunting bisa tertangani secara sinergis bersama desa.
“Bupati Kebumen secara tegas melalui Perbup terkait menegaskan bahwa Dana Desa (DD) Tahun 2026 juga difokuskan untuk percepatan penurunan stunting,”ujar Camat Azida.
Sementara itu, Narasumber menyampaikan terkait informasi data stunting, evaluasinya dan penguatan pemahaman kepada peserta sekaligus penguatan tata laksana penanganannya. Dari data yang disampaikan, angka prevalensi stunting 21 Desa yang ada di Kecamatan Buluspesantren, prevalensinya dibawah target yang ditetapkan (9,08%).
“Data 11 Desa dibawah naungan Puskesmas Buluspesantren I dari target 9,08% capaiannya 5,34% dengan prevalensi tertinggi di Desa Bocor 8,3%,”ungkap Puji Hartono selaku Narasumber dari Puskesmas I.
“Data 10 Desa dibawah naungan Puskesmas Buluspesantren II dari target 9,08% capaiannya 7,3% dengan prevalensi tertinggi di Desa Klapasawit dan desa Tanjungrejo 7,8%,” ungkap Sugeng Edi Sarjono selaku Narasumber dari Puskesmas II.
Lebih lanjut, Narasumber secara spesifik juga menyampaikan evaluasi dan tindak lanjut stunting berfokus pada audit kasus penyebab utama, konvergensi lintas sektor, dan pendampingan keluarga berisiko. Langkah krusial meliputi perbaikan gizi bumil, ASI eksklusif, MPASI protein hewani, serta perbaikan sanitasi/air bersih untuk mencegah peningkatan angka stunting.
Tindakan pencegahan stunting tentu lebih bijak dilakukan oleh semua orang di lingkungannya, terutama yang terdapat anak balita dan pasangan usia muda terhadap kemungkinan terjadinya stunting, daripada harus melakukan upaya penanganan setelah stunting itu terjadi. Biaya pencegahan stunting tentu lebih murah dan dampaknya tentu akan lebih terkendali, dibandingkan bila sudah terjadi stunting.
